Jaarbeurs

foto_27

Jaarbeurs pertama kali diselenggarakan selama hampir sebulan lamanya dari tanggal 17 Mei sampai dengan 5 Juni 1920.  Sejak itu kegiatannya tidak pernah absen, berlangsung setiap tahun antara bulan Juni dan Juli. Praktis Jaarbeurs telah mengundang wisatawan, sehingga daya tarik kota Bandung makin bertambah.

Apalagi pada tahun ketiga,  tahun 1923, Tentara dan Angkatan Laut Belanda berusaha mengambil bagian dengan memamerkan kekuatan militernya berupa pesawat-pesawatnya. Kesempatan ini juga dimanfaatkan dengan membentuk dinas pos selama pameran berlangsung yang menghubungkan Bandung-Batavia pergi-pulang dengan satu penerbangan. Walau namanya dinas pos, akan tetapi yang diangkut bukan hanya barang-barang kiriman pos, akan tetapi juga mengangkut penumpang (Haselen, 2005:32).

Jaarbeurs pertama kali diselenggakan pada masa pemerintahan Walikota (Burgemeester) pertama B Coops. Namun awal kegiatannya sudah dirintis sejak tahun 1917 dengan dibentuknya de Vereneging Nederlandsch-Indische Jaarbeurs yang diketuai Ir MH Damme, sehingga tiga tahun kemudian sudah berfungsi.

Berkat penyelengraan bursa tahunan itu, daya tarik kota Bandung bertambah sehingga  kebanjiran wisatawan. Mereka bukan hanya berasal dari kota-kota besar di Hindia Belanda, akan tetapi tidak sedikit yang datang dari Negeri Belanda.

Walaupun sejak tahun 1922 di Surabaya diselenggarakan kegiatan serupa, namun hal itu tidak mengurangi minat wisatawan berkunjung ke Bandung. Terbukti ketika pertama kali dibuka, pengunjung Jaarbeurs sudah mencapai 60.000 orang. Bahkan pada tahun-tahun berikutnya, kunjungan itu terus meningkat, sehingga selama Jaarbeurs digelar pada tahun 1929 tercatat tidak kurang dari 226.000 pengunjung (Vouskil dkk, 2007:66).

Akan tetapi  kegiatan yang ikut mengharumkan nama kota Bandung itu hanya bisa diselenggarakan sebanyak 21 kali. Ketika kekuasaan beralih, Jepang menutup semua kegiatan yang berbau Belanda. Kegiatan Jaarbeurs yang terakhir berlangsung dari tanggal 28 Juni – 13 Juli 1941.

Gedung Jaarbeurs digunakan sebagai kegiatan militer Republik Indonesia untuk pertama kalinya ketika ditempati sebagai Markas Detasemen Polisi Militer dipimpin Aboeng Koesman dan Kesatuan Detasemen Markas Kodam III/Siliwangi dipimpin Letnan I Subrata. Saat itu, anggota Detasemen Polisi Militer yang berjumlah sekitar 90 orang hanya dilengkapi persenjataan sekitar sepuluh pistol dan beberapa bayonet.

Markas di gedung Jaarbeurs sempat dikosongkan ketika  terjadi serbuan mendadak pasukan liar yang dipimpin Kapten Westerling pada tanggal 23 Januari 1950 pagi. Untuk menghindarkan terjadinya korban, pasukan yang dipimpin Aboeng Koesman mencoba bertahan di daerah Cikutra (Poernaman dkk, 1995).

Advertisements
This entry was posted in Jaarbeurs. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s